Sewon Screening #7

Kelas Bunga Matahari

Apresiasi film lewat kritik memiliki peran sentral dalam ekosistem film dan perkembangannya. Selain menjadi refleksi tolak ukur ekosistem film, kritik juga mensolidifikasi tempat film dalam sejarah. Kritik mejadi catatan kaki untuk mengabadikan dan memperpanjang umur film. Sewon Screening 7 berupaya untuk menciptakan lingkungan apresiasi yang lebih baik lagi lewat Kelas Bunga Matahari.
Kelas Bunga Matahari di Sewon Screening 7 kali ini diisi dengan kelas kritik yang mengundang beberapa kritikus dan jurnalis film dalam negri sebagai pemateri, yang membahas kritik dari beberapa aspek. Kelas ini berisikan workshop bagaimana membaca dan mengupas film.
Materi akan dibawakan oleh Agustinus Dwi Nugroho, Miftachul Ariffin, Dwiki Aprinaldi, dan Avicenna Raksa Santana. Melalui beberapa tugas yang akan diberikan, Kelas Bunga Matahari diharapkan dapat melatih peserta untuk membaca dan mengkritik film sekaligus menjadi bentuk capaian akhir Kelas Bunga Matahari itu sendiri. Tidak hanya itu, bagi peserta yang mengikuti rangkaian kelas secara menyeluruh akan mendapatkan sertifikat keikutsertaan. Kontribusi Kelas Bunga Matahari diharapkan dapat bermanfaat bagi ekosistem kritik film dalam negri.

(Penanggung Jawab: Irsyadh Hakim)

Pemateri

Agustinus Dwi Nugroho

Penulis dan Kritikus Film
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com.
Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Ia juga menjadi editor buku Memahami Film Edisi Kedua (2017), serta menjadi salah satu penyusun dan penulis buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol.1 – 3 (2018) serta 30 Film Indonesia Terlaris 2002 – 2018 (2019).

Avicenna Raksa Santana

Penulis dan Kritikus Film
Sarjana Psikologi yang sedang mengambil program Pascasarjana Komunikasi. Menulis untuk Cinema Poetica sejak 2013. Sempat menjadi editor rubrik film di jurnalruang,com, juru program pemutaran film di Bentara Budaya Jakarta, dan editor buku di Kepustakaan Populer Gramedia. Sekarang bekerja sebagai wartawan, sambil menulis artikel dan menyunting buku secara lepas. Film pendek yang ditulisnya diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, 100% Manusia Film Festival, dan Europe on Screen.

Dwiki Aprinaldi

Penulis dan Kritikus Film
Dwiki Aprinaldi lahir di Malang, 3 April 1997. Ia adalah seorang penulis, penerjemah, dan editor lepas yang lebih suka menyebut dirinya sebagai penonton. Sebelum menyelesaikan studi S-1-nya di Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2020, ia aktif dalam kerja-kerja yang bersinggungan dengan perfilman sejak terlibat dalam Festival Film Dokumenter (FFD) pada tahun 2015—sebagai publisis hingga pemrogram lokakarya kritik film.
Sebagian waktu senggangnya banyak ia habiskan untuk menonton, ‘membaca’, dan menulis tentang film, yang beberapa di antaranya dapat ditemukan di: Warning Magazine, Cinema Poetica, Jurnal Ruang, dan Kumparan. Tulisannya tentang film lebih banyak berkutat pada kajian soal aspek-aspek yang mendasari kemunculan tren dalam sinema dan mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat dicapai oleh film. Mereka mencakup bahasan tentang—tetapi tidak terbatas pada—dimensi politik, ekonomi, sejarah, dan sosial budaya yang melatarbelakangi keduanya. Dua dari sekian tulisan itu terpilih sebagai Artikel Perfilman Terbaik—di tahun 2019—dan pemenang Lomba Ulasan Film—di tahun 2020—oleh Pusbangfilm Kemendikbud. Di tahun 2021, Dwiki terpilih sebagai salah satu resident writer pada program Critical Writing Micro-Residency selenggaraan ArtsEquator x Goethe-Institut Singapore sembari menyiapkan naskah buku perdananya yang menyoal heteronormativitas dalam sinema Islami Indonesia pasca-Orde Baru.

Miftachul Ariffin

Penulis dan Kritikus Film
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com.
Penulis Reguler ulasan film-film Indonesia dalam situs web montasefilm.com milik Komunitas Film Montase. Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alternatif yang diterbitkan secara selfpublishing. Kontributor Majalah Mata Jendela milik Taman Budaya Yogyakarta, dengan topik Menonton Karya Filmmaker Jogja. Saat ini, sedang menjadi salah seorang dari 35 juri dalam Fes􀆟val Film Wartawan Indonesia (FFWI) XI.

Peserta

  • Adinda Ayu Dewi
  • Achmad Rifqon
  • Alfree Nafis
  • Asiah N. Hq.
  • Azhar Arrival
  • Daffa Akhmad F
  • Darin Shoba F
  • David Hukom
  • David Yosafat Yoel
  • Dewanty Ajeng W
  • Fadliawan
  • Fairuz Azzura Salma
  • Fathur Novriantomo
  • Jacob Brilian
  • Krisna Harimurti
  • Lukas Beny Kristia
  • M Choenur
  • Minfadly Robby
  • Mohammad Pandu
  • Muhammad Latief
  • Muhammad Raihani
  • Nadaska Ilyasa Wibowo
  • Naila Diba
  • Rachmat Satya N