Sewon Screening #7

thanda thani

Rp 15.000,- / film

Programmer: Regita Andianti Prameswari dan Nabila Ramadhani Sulaimah

Moderator
Lewat Djam Malam : Sazkia Noor Anggraini
Kuldesak : Maria Kilapong

Sejarah melekat jadi bagian dari perkembangan manusia, dengan waktu yang terus berputar menyisakan jejak-jejak jalannya peradaban. Tak selamanya peristiwa tersebut dapat kita simpan di kepala untuk diturunkan ke anak cucu. Namun, terima kasih patut dilantunkan kepada para nenek moyang hingga kita berkesempatan menyicipi gambaran suatu sejarah dimulai dari peninggalan artefak, dan dengan film salah satunya.
Program Thanda Thani sebagai segmen opening pada serangkaian program pemutaran Sewon Screening #7 akan menyinggung pengemasan sejarah era 50-an dan 90-an Indonesia dalam bentuk film. Menayangkan isu-isu hangat terkait masalah sosial politik dan tragedi-tragedi memilukan hingga pilu masih terasa sampai saat ini. Dikupas dari latar belakang, dampak, hingga perkembangan dunia perfilman pada masanya yang diwakilkan oleh masing – masing film di eranya.
Dibuka dengan film “Lewat Djam Malam” salah satu karya fenomenal bapak perfilman Indonesia, Usmar Ismail, dari era 50-an. Bercerita tentang tekanan hidup seorang mantan tentara saat Indonesia masih dalam penjagaan ketat tentara Belanda yang berpatroli pada jam malam, di Kota Bandung. dilanjut film yang tercipta atas rasa pemberontakan oleh 4 sutradara ternama, dibawah tekanan masa reformasi rezim orba. Film komedi hitam “Kuldesak” menceritakan beragam masalah sosial yang dialami para remaja, khususnya bertempat di Kota Jakarta pada era 90-an melalui berbagai sudut pandang muda mudinya.
Melalui Thanda Thani, kami mengajak para penikmat film untuk berefleksi bagaimana perfilman ternyata dapat menjadi saksi sekaligus media dalam proses juang kemerdekaan akan sesuatu, yakni ketika tujuan penciptaan film juga sebagai media beropini bukan hanya bertujuan komersil semata. Dan menyadari bagaimana perkembangan film dipengaruhi suasana lingkungan sekitar tidak hanya kemajuan teknologi semata. Besar harapan, setelah mengikuti kegiatan menonton dan proses diskusi, Kami berharap program ini dapat memunculkan ruang diskusi segar atas pengetahuan dan sejarah yang memberikan inspirasi serta pembaharuan.

Film yang ditayangkan

Lewat Djam Malam

Rp 15.000,-
1954 — 101 min
Mengisahkan seorang bekas pejuang, Iskandar (AN Alcaff) yang kembali ke masyarakat, dan coba menyesuaikan diri dengan keadaan yang sudah asing baginya. Pembunuhan terhadap seorang perempuan dan keluarganya atas perintah komandannya di masa perang terus menghantuinya. Tepat pada jam malam yang sedang diberlakukan, ia masuk rumah pacarnya, Norma (Netty Herawati). itu awal film yang masa kejadiannya hanya dua hari. Keesokannya ia dimasukkan kerja ke kantor gubernuran. Tidak betah dan malah cekcok. Dengan kawan lamanya, Gafar (Awaludin), yang sudah jadi pemborong, ia juga tak merasa cocok. Ia masih mencari kerja yang sesuai dengan dirinya. Bertemu dengan Gunawan (Rd. Ismail), ia semakin muak, melihat kekayaan dan cara-cara bisnisnya. Apalagi setelah tahu, bahwa Gunawan merampas harta perempuan yang ditembak Iskandar itu lalu dijadikan modal usahanya sekarang. Kemarahannya memuncak. Ia lari dari pesta yang diadakan pacarnya untuk dirinya dan pergi mencari Gunawan ditemani Puja (Bambang Hermanto), bekas anak bahnya yang jadi centeng sebuah rumah bordil. Penghuni rumah itu adalah Laila, pelacur yang mengimpikan keadamaian sebuah rumah tangga yang tak kunjung datang. Lalu dia pulang ke pesta, tapi ia melihat polisi datang. Ia curiga dirinya dicari-cari. Maka lari lagilah dia sampai kena tembak oleh Polisi Militer, karena melanggar peraturan (lewat) jam malam, justru di saat dia menghampiri kembali kekasihnya (Netty Herawati), satu-satunya orang yang mau mengerti dirinya. Mungkin bisa disebut karya terbaik Usmar Ismail. Sebuah kritik sosial cukup tajam mengenai parabekas pejuang kemerdekaan pasca perang. Makan di akhir film dibubuhkan kalimat: “Kepada mereka yang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan nyawa mereka, supaya kita yang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka yang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.” Kelemahan film ini mungkin terletak pada akhiran film yang berpanjang-panjang, dan pengungkapan kegelisahan tokoh utamanya yang kurang subtil dan terlampau fisik.

Kuldesak

Rp 15.000,-
1999 — 110 min

KULDESAK adalah sebuah film yang memfokuskan diri pada empat karakter anak muda di kota Metropolitan Jakarta. Mereka dihadapi oleh beberapa masalah yang berbeda-beda. Ada yang berusaha untuk mewujudkan impiannya dengan cara apapun, ada yang berusa mencari jati diri pada tempat yang salah, ada yang mencari batas antara impian dan kenyataan, dan ada yang merasakan tertekan karena kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Masalah masalah diatas, ibarat sebuah perempatan jalan, mengharuskan mereka mengambil suatu langkah, suatu keputusan, dan karena dihadapkan pada situasi yang mendesak, mereka akhirnya mengambil jalan pintas yang ternyata dapat membawa mereka ke sebuah jalan buntu. Sebuah KULDESAK.

AKSAN (Wong Aksan), adalah seorang anak muda yang memiliki impian untuk membuat …film! Ayahnya tidak mendukung cita citanya. Dibujuk oleh teman baiknya, ALADIN ( Tio Pakusadewo), Ia nekat mencoba mengambil uang yang ada di dalam toko laserdisc milik ayahnya. Tidak diketahui olehnya akan adanya pihak lain yang juga mencoba mencuri di toko itu untuk kepentingan yang sangat berbeda.

ANDRE ( Alm. Ryan Hidayat ), adalah seorang musisi yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun ia terus berusaha mencarinya, walau seringkali di tempat yang salah. Meninggalnya salah satu idolanya membuat ia semakin goyah. Teman terdekatnya , HARIOLUS ( Iwa K ), yang sering memberikan nasihat dan ramalan, meramalkan bahwa ia akan segera menemukan apa yang ia cari selama ini.

DINA ( Oppie Andaresta ), seorang wanita muda yang hidup sendiri, tinggal bertetangga dengan 2 orang pemuda yang memiliki
hubungan khusus. Terjalin persahabatan yang erat diantara mereka. Keretakan mulai terjadi diantara mereka kaena hidup mereka ternyata penuh dengan pretensi dan kebohongan.

LINA ( Bianca Adinegoro ), adalah seorang karyawati di sebuah biro iklan. Sebuah kejadian yang pahit menggoncang hidupnya. Kejadian ini membuatnya begitu terpojok sehingga ia harus mengambil langkah langkah yang cukup drastis.

Semua mencari jawaban. Semua mencari jalan keluar. Semua mencari pilihan. Adakah yang membantu diluar sana?